Warga menunjukan karapas penyu yang ditemukan. (ist)
Warga menunjukan karapas penyu yang ditemukan. (ist)

Sebuah cangkang atau karapaks penyu hijau (Chelonia Mydas) dewasa berusia sekitar 50 tahun ditemukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sanggar Ria.

Saat ditemukan, karapaks (karapas) itu tergeletak tertutup pasir dan dedaunan kering di pinggiran hutan lindung pesisir Pantai Jung Pakis, Tulungagung, Jawa Timur.

Cangkang penyu hijau itu ditemukan secara tak sengaja oleh pokdarwis saat melakukan pencarian telur penyu untuk dikonservasi dari ancaman predator dan pemburu telur penyu ilegal, dua pekan lalu atau sekitar akhir pertengahan Juni.

"Saat ditemukan, kondisinya setengah terpendam tapi tidak tebal," tutur ketua Pokdarwis Sanggar Ria, Lego Riyanto yang dibenarkan anggota Pokdarwis Sanggar Ria yang lain.

Dari bekas yang ditemukan di karapas itu, diperkirakan penyu yang berusia sekitar 50 tahun itu merupakan sisa pembantaian oknum yang tidak bertanggung jawab atau pemburu penyu ilegal. Panjang karapas mencapai 1 meter dengan lebar 70-an sentimeter.

Saat ditemukan, hanya berupa cangkang/karapaks. Tak ada bagian tubuh yang lain. Daging, ekor, kaki, kepala maupun bagian tubuh penyu hijau dewasa itu sama sekali tak bersisa.

Karapaks  itu sepertinya sengaja disembunyikan dengan cara dipendam tidak dalam di pinggir hutan lindung kawasan pesisir Pantai Jung Pakis. Lego Riyanto dkk menemukan bekas sayatan pisau di pinggir cangkang.

"Melihat bekas sayatannya, pelaku ini sepertinya tidak paham betul tata cara menguliti dan menyayat daging penyu," ucap Sumarli, anggota Pokdarwis Sanggar Ria.

Lego menyimpan karapaks penyu untuk dijadikan bukti adanya jejak pembantaian satwa amfibi yang terancam punah karena menjadi perburuan ilegal tersebut.

Kasus temuan penyu yang mati dibantai pemburu penyu tidak hanya sekali ini saja ditemukan. Dua-tiga tahun sebelumnya warga juga menemukan seekor penyu hijau dewasa yang mati di Pantai Ngalur, tak jauh dari Pantai Sanggar maupun Jung Pakis.

Kondisi penyu yang ditemukan saat itu lebih utuh. Namun kaki-kakinya sudah tidak ada. Seperti bekas dipotong dengan senjata tajam.

Namun Lego dan anggota Pokdarwis Sanggar Ria lain mengaku tidak tahu siapa pelaku perburuan penyu hijau yang terancam punah tersebut. Kemungkinan dilakukan warga sekitar mereka bantah. Lego dkk mengklaim warga Desa Jengglungharjo sudah sadar dan justru marah jika ada orang yang berburu penyu ataupun telur penyu. Mereka sadar konservasi lingkungan demi masa depan generasi penerus.

Mereka yang tergabung dalam Pokdarwis Sanggar Ria mengaku sudah proaktif melakukan upaya konservasi semampu mereka bisa. Namun aksi perburuan masih saja terjadi.

Lokasi dan area pendaratan penyu di empat kawasan pesisir pantai setempat. Yakni di Pantai Ngalur, Sanggar, Jung Pakis, dan Pantai Pathuk Gebang cukup jauh dari pemukiman penduduk.

Penjagaan di pantai-pantai yang biasanya menjadi lokasi pendaratan dan tempat bertelur penyu tidak bisa mereka lakukan terus-menerus demi melindungi penyu maupun telur penyu dari serangan predator alaminya maupun perburuan manusia secara liar dan ilegal.