Tersangka DS saat dimintai keterangan dihadapan penyidik UPPA Satreskrim Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Tersangka DS saat dimintai keterangan dihadapan penyidik UPPA Satreskrim Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



Tidak hanya kepergok mencuri ayam, DS (inisial) warga Dusun Ngelak, Kelurahan/Kecamatan Dampit ini ternyata juga sudah pernah merasakan kerasnya kehidupan di dalam penjara. 

Bocah 15 tahun itu, sebelumnya pernah berurusan dengan pihak kepolisian lantaran terbukti melakukan pencurian.

”Sebelum kami amankan karena terbukti melakukan aksi pencurian ayam dan percobaan pencurian makanan milik pamannya, tersangka DS ini sudah sering ketahuan mencuri. Terakhir pada pertengahan 2018 lalu, DS pernah dipenjara karena kasus pencurian bor listrik,” kata Kanit UPPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana, Jumat (13/9/2019).

Seperti yang sudah diberitakan, DS sempat dihajar massa sesaat setelah dirinya kepergok melakukan upaya pencurian makanan di rumah pamannya yang berlokasi di Dusun Ngelak, Kelurahan/Kecamatan Dampit, Kamis (12/9/2019).

Bahkan, pamannya sendiri yang menjadi sasaran pencurian, sempat melampiaskan amarahnya dengan cara membacok bocah belasan tahun tersebut. Beruntung, clurit yang dilayangkan hanya mengenai siku dari pelaku.

Tidak lama setelah dihajar massa, warga kemudian mengarak DS ke Polsek Dampit.

Di hadapan polisi, bocah kelahiran 28 Februari 2004 ini mengaku jika sebelum diamankan warga, dia sempat mencuri dua ekor ayam milik pamannya, Rabu (11/9/2019).

Lantaran masih dibawah umur, kasus pencurian ini akhirnya dilimpahkan ke UPPA Satreskrim Polres Malang, Jumat (13/9/2019). 

”Dari hasil penyidikan sementara ini, tersangka mengaku jika sudah melakukan pencurian sebanyak 7 kali,” sambung Yulistiana.

Selama melancarkan aksinya, DS kerap menyasar sepeda motor milik warga yang tinggal di sekitar rumahnya. 

Namun belum sempat dijual, korban yang merasa kehilangan kendaraannya langsung melabrak DS.

Bukan tanpa alasan, selain susah diatur bocah yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 5 SD (Sekolah Dasar) ini juga dikenal gemar mencuri.

Semula warga sempat memaklumi perbuatan pelaku. Hingga akhirnya, sekitar bulan Juni 2018 lalu. 

DS kedapatan mengambil mesin bor listrik milik salah satu warga yang tinggal disekitar rumahnya.

Lantaran geram sering membuat ulah, kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian.

”Pada saat itu tersangka yang terbukti melakukan pencurian, divonis penjara selama 6 bulan dan baru bebas pada bulan November 2018,” terang Yulistiana.

Ditemui disaat bersamaan, tersangka DS mengaku jika sepeda motor yang pernah dicurinya tersebut merupakan kendaraan yang terparkir di halaman rumah milik warga. 

Bahkan selain menyasar kendaraan yang terparkir di depan rumah korban yang hendak dia sasar. DS juga mengaku jika pernah melancarkan aksi pencurian sepeda motor di area persawahan.

”Ya hanya keliling cari mangsa, jika ada motor yang kuncinya tertinggal di kontak kendaraan ya saya ambil. Tapi selalu ketahuan, akhirnya motor yang saya curi dikembalikan,” terang bocah yang dibesarkan oleh orang tua angkat tersebut.

Meski sempat dijebloskan ke penjara karena kasus pencurian bor listrik, DS mengaku terpaksa kembali melancarkan aksi pencurian. 

Dia berdalih jika butuh uang saku untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

”Saya mencuri karena butuh uang jajan, biasanya uang hasil penjualan barang curian saya belikan rokok dan makanan,” tutup bocah yang kedua tanggannya dipenuhi dengan tatto ini.


End of content

No more pages to load