Ilustrasi sopir jadi pengedar sabu (lampung.tribunnews.com)

Ilustrasi sopir jadi pengedar sabu (lampung.tribunnews.com)



Ekonomi lagi-lagi menjadi satu alasan klasik seseorang terjerumus dalam jurang hitam narkoba. Seperti yang dilakukan oleh Mar, warga Jalan  Candi Telagawang, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini.

Pria berumur 32 tahun yang berprofesi sebagai seorang sopir tersebut, nekat beralih profesi sebagai pengedar serbuk haram sabu-sabu guna menambah penghasilan. Namun bukannya penghasilan tercukupi, justru Mar malah harus merugi banyak lantaran ia bakal mendekam di sel jeruji besi dalam beberapa tahun kedepan.

Penangkapan Mar pada 29 Agustus 2019 lalu bermula atas informasi yang diperoleh petugas, jika Mar merupakan seorang pengedar sabu. Dari informasi itu, petugas selanjutnya melakukan penyelidikan. Petugas kembali mendapatkan informasi, jika Mar akan melakukan transaksi.

Karena telah mendapatkan kepastian jika Mar merupakan pengedar, begitu Mar tepat berada di Jalan Jendral Ahmad Yani Utara, Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, polisi langsung saja menciduknya.

Saat digeledah, Mar tak bisa mengelak lagi, ketika petugas mendapat barang bukti yang sempat dia sembunyikan dalam bungkus rokok serta bungkus permen. Sebanyak 14 bungkus plastik klip kecil diamankan dari pelaku. Total barang bukti yang diamankan seberat 25,46 gram.

Dari situ, lantas pelaku segera digelandang ke Polres Malang Kota. Disana, pelaku diinterogasi lebih lanjut mengenai asal muasal barang haram miliknya. Pelaku mengaku barang haram miliknya didapat dari seseorang berinisial MC.

"Saat ini masih kami terus kembangkan. Pemasoknya juga masih kami kejar, semoga segera tertangkap. Dalam setiap transaksi, pelaku dengan pemasok ini menggunakan sistem ranjau," paparnya.

Akibat perbuatannya, Mar terancam pasal 114 UU 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman penjara minimal lima penjara hingga maksimal 15 tahun penjara. Sementara itu, hingga kini, Mar masih mendekam di sel jeruji besi Polres Malang Kota. 


End of content

No more pages to load