Agung Purwanto Ketua Pawahikorta saat di ULT PSAI / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Agung Purwanto Ketua Pawahikorta saat di ULT PSAI / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES



Karena dinilai lamban, LSM yang menaungi pengusaha tempat hiburan atau Persatuan Warung Kopi Dan Karaoke Tulungagung (Pawahikorta) mendatangi ULT PSAI dan Dinas Sosial Kabupaten Tulungagung, Senin(16/09) siang. Ketua Pawahikorta, Agung Purwanto menanyakan tentang kelanjutan kasus dugaan perkosaan yang dialami Melati (16) dan Tari (18) di warung Idaman milik Markini (65) yang berada di Dusun Kedungjalin Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung.

"Kita datang kesini menanyakan tindak lanjut kasus yang terjadi pada pelayan warung yang mendapat perlakuan kekerasan berupa perkosaan," kata Agung.

Kasus tersebut menurut Pawahikorta sudah menjadi perhatian publik, sedangkan penanganannya terkesan mandek lantaran korban dipulangkan pada orang tuanya di Malang.

"Bahkan dulu bisa saya hubungi melalui ponsel mereka, kini kontak keduanya tak bisa dihubungi lagi," ujar Agung.

Karena korbannya masih berusia dibawah umur dan diduga pelaku yakni seorang perangkat desa (Uceng) di salah satu desa di wilayah Kecamatan Sumbergempol masih bebas berkeliaran, Pawahikorta mengaku tidak ingin ada korban berikutnya.

"Jika tidak dilaporkan polisi, maka pelaku ini punya potensi melakukan perbuatan yang sama pada korban lain. Untuk itu, kami meminta agar pihak terkait meyakinkan korban dan orang tuanya untuk lapor ke polisi dan di proses hukum," terangnya.

Akrin Nur Huda, salah satu pengurus ULT PSAI yang menerima kedatangan Pawahikorta menjelaskan jika masalah ini menjadi perhatian serius pihaknya. Bahkan, hingga kini ULT PSAI terus menjalin komunikasi dengan pihak Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan pekerja sosial (Peksos) dimana korban berada. 

"Kita masih pantau, komunikasi dengan Peksos dan TKSK untuk memantau dan meyakinkan agar membuat laporan. Namun, hingga saat ini belum datang ke Tulungagung untuk membuat laporan ke polisi," terang Akrin.

Menurut Akrin, saat pihaknya mengantarkan pulang ke desa dimana korban berdomisili beberapa waktu lalu, pihak orang tua korban mengaku tidak terima dengan perlakuan yang diterima anaknya. 

"Orang tuanya seorang ketua RT, dia ingin membuat laporan. Namun entah hingga kini belum datang, mungkin masih menunggu kesiapan," tambahnya.

Mawar sendiri menurut Akrin, seperti yang diceritakan orang tuanya tidak pernah pamit jika bekerja menjadi pemandu lagu di kafe Tulungagung. 

"Orang tua mawar taunya bekerja ditempat lain, ternyata di Tulungagung dan baru tau ada kejadian ini," ungkapnya.

ULT PSAI menurut Akrin akan tetap menunggu kesiapan korban dan orang tuanya datang dan membuat laporan. "Kita akan dampingi saat mereka sudah siap dan datang," pungkasnya. 

Tag's Berita

End of content

No more pages to load