Ilustrasi Perundungan (mediaindonesia)
Ilustrasi Perundungan (mediaindonesia)

Polresta Malang Kota, masih terus melakukan pengembangan mengenai kasus Perundungan yang menimpa MS (13) siswa SMPN 16 Kota Malang. Polresta Malang Kota bakal segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Hal itu untuk menggali keterangan baru serta mempelajari apakah hasil dari keterangan pelaku, korban maupun pihak saksi telah sesuai dengan kejadian fakta sebenarnya di lapangan.  

"Tidak menutup kemungkinan dari rekontruski dan konfrontasi saksi di lokasi bisa berkembang (jumlah pelaku). Kita komitmen terus penyidikan kasus ini sampai jelas seluruhnya siapa yang berbuat apa dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," bebernya Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata beberpa waktu lalu.

Sementara itu, kapan waktu akan dilakukannya rekonstruksi kasus tersebut, ditambahkan Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Yunar Hotma, jika jadwal digelarnya rekonstruksi masih belum bisa dipastikan.

"Belum tau kapan waktunya. Saat ini ya masih terus melakukan penyidikan lebih mendalam," ungkap pria dengan tiga balok dipundaknya ini (17/2/2020)

Lebih lanjut Hotma menjelaskan, jika dalam penanganan kasus ini pihaknya sangat berhati-hati dan tak gegabah dalam melakukan atau menentukan sebuah keputusan. Sebab seperti diketahui, baik korban maupun pelaku sama-sama masih dibawah umur.

"Penanganannya tentu harus mengacu pada sistem peradilan anak. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan, ya seperti dari sisi psikologi maupun sisi lainnya," bebernya.

Sementara itu, hingga saat ini, pihaknya menjelaskan masih belum menetapkan adanya tersangka baru. Pihaknya menegaskan jika masih terus mendalami kasus Perundungan ini. "Belum, tersangka masih dua," pungkasnya

Sebelumnya, pihak kepolisian telah menetapkan dua tersangka kasus perundungan siswi SMPN 16 Kota Malang. Dua tersnagka tersebut, yakni WS dan RK. WS pelajar kelas delapan SMPN 16 Kota Malang dan RK pelajar kelas tujuh SMPN Kota Malang.

Dua pelaku, merupakan dua orang yang terlibat langsung dalam aksi perundungan korban MS. Mereka memegang korban, kemudian mengangkat korban dan selanjutnya menjatuhkan korban ke paving serta di pot.

Akibat dari aksi Perundungan terhadap MS tersebut harus menyebabkan jari tengah pada tangan kanannya harus diamputasi. Selain itu, MS juga mengalami rasa trauma yang cukup dalam.